Memasuk masa SMP, Counter-Strike pun semakin jarang saya mainkan. Kala itu, mesin tik semakin jarang dipakai untuk mengerjakan makalah anak sekolahan. Dalam suasana bersekolah di SMP favorit nomor 1 di kota Bandung, memakai mesin tik untuk mengerjakan makalah akan membuatmu sedikit terasa dikucilkan. Bahkan, jika kamu tidak memakai sepatu branded seperti Converse atau FILA: kamu pun bakal kena perundungan secara halus atau kasar.

Akhirnya, dengan alasan mengerjakan makalah, PC pun berhasil saya dapatkan. Waktu itu tahun 2002, banyak gim fenomenal lain yang masuk platform PC; Max Payne, Metal Gear Solid, The Sims, dan Silent Hill 2. Selain gim tersebut, gim Pokemon pun mulai dikenal pada portable platform seperti Game Boy Color. Ya, saya menggilas semua gim di atas dan nilai mata pelajaran pun semakin terjun bebas.

Sebagian besar gim yang saya sebutkan di atas adalah first person/third person shooter. Karena telah terbiasa bermain Counter-Strike, saya telah terbiasa menguasai teknik dasar bermain gim jenis lain, terutama first person/third person shooter.

Tentu saja gim Counter-Strike yang terhitung monoton dan mengharuskan kamu bermain multiplayer LAN agar jadi seru pun semakin terkesampingkan. Bermain LAN di warnet akan menguras kantong ukuran pelajar, sedangkan bermain di PC pribadi dengan gim-gim yang sedang populer pun jadi lebih seru, ekonomis, dan variatif.

Dengan semakin terbukanya banyak pilihan untuk bermain gim, saya tidak serta merta meninggalkan Counter-Strike: versi terbaru dari CS yang kala itu adalah versi 1.5 pun ter-install di PC saya. Bedanya, saya bermain melawan bots/AI(Artificial Intelligent). Botchat berbahasa Indonesia versi Edwin dan Jody pun cukup populer digunakan oleh user Indonesia yang memang ingin terpingkal.

2003: Demam Ragnarok

Tahun 2003 adalah pertanda kehancuran bagi sebagian besar pemain gim, terutama pelajar. Mei 2003, Ragnarok Online merajalela, Indonesia, terutama pulau Jawa, memasuki era pasca gim online (daring) mulai populer secara merata dikalangan gamer.

Ragnarok memang bukan gim daring pertama, ada Nexia (2001), Redmoon (2002), dan Laghaim (2003) sebelum Ragnarok masuk Indonesia. Yang membedakannya, pamor Ragnarok jauh lebih populer perkembangannya dari semua gim daring di atas.

Lalu, dalam konteks apa saya berani menyebutkan hal tersebut sebagai ‘pertanda kehancuran bagi sebagian besar pemain gim, terutama pelajar’? Banyak hal tentunya, mulai dari harga billing warnet yang semakin mahal karena menggunakan koneksi internet, membayar vocher untuk dapat mengakses permainan, penyimpangan karena bermain terlalu militan,  dan tindakan yang cenderung berbau kriminal di internet.

Koneksi internet sangat-sangat mahal pada tahun itu, wajar saja jika harga bermain di warnet semakin meningkat. Saya ingat, ada teman saya yang ‘diam-diam’ bermain di rumah dengan Telkom Net Instan dan harus membayar tagihan hampir jutaan. Dia tercyduk orang tuanya tentunya, dan entahlah berakhir seperti apa penyelesaiannya.

Arketipe dari Ragnarok jaman old dan beberapa MMO di Indonesia belum mengenal sistem itemall. Gim ini awalnya free to play, tapi itu hanya sebentar dan kemudian berubah menjadi pay to play dengan sistem vocher jam,hari,minggu, dan bulan. Tidak jarang, ditemui gamer pelajar yang menggunakan uang SPP atau biaya les untuk membeli vocher tersebut (termasuk saya).

Di beberapa warnet, pelajar yang bolos karena ingin bermain Ragnarok mulai terlihat. Di Bandung, ini terjadi hampir mengglobal, bahkan saya ingat ada pemuda yang mengaku terobsesi pada gim ini, membuang cita-cita bangku sekolahnya, dan bercita-cita menjadi Game Master di Ragnarok. Sungguh, kamu terlalu tendensius Nak!?

Lalu poin yang saya maksud dengan kecenderungan akan tindakan berbau kriminal? Rata-rata adalah penipuan; mencuri ID milik orang lain, kemudian merampok barang virtualnya, penipuan dalam pertukaran barang virtual, dan penipuan perihal nilai barang virtual dalam Ragnarok.

Oh iya! Ada satu hal yang paling populer dan fenomenal kala itu: penipuan JENIS KELAMIN! Tujuannya apa? Mengeruk harta virtual sang korban kesepian yang berkhayal bahwa karakter perempuan di gim adalah perempuan cantik tentunya. Bahkan, istilah hode atau karakter virtual perempuan yang dimainkan oleh laki-laki pun berasal dari Ragnarok. [1]

Waktu Ragnarok merajalela, Counter-Strike memasuki versi 1.6. Saya ingat, armor buat CT berupa tactical shield mulai diperkenalkan dan sangat ramai dipakai karena tergolong imbalance. Singkat cerita, saya untungnya berhasil meninggalkan dunia Ragnarok online cukup cepat dan tidak terjerumus terlalu dalam. Terima kasih buat pencipta YARE yang memungkinkan memainkan Ragnarok secara luring (offline) dan saya pun sedikit terobati. [2]

Selamat Tinggal Counter-Strike

Jujur, karena trauma akan imbalance-nya tactical shield, saya pun cenderung malas bermain Counter-Strike. Saya sesekali hanya bermain ketika gerombolan teman SMP saya ingin bermain bersama. Hal itu berlangsung sampai kelas 3 SMP.

Saya masih bisa merasakan antusias para pemain Counter-Strike ketika jelajah warnet bareng teman-teman. Warnet yang memiliki pencinta CS yang cukup kuat kala itu adalah: Astoria, Cafe Milan, Boston, Commando alias CMD dan Octagon. Setahu saya, semua warnet tersebut sudah gulung tikar dan ada yang berubah fungsi menjadi mall.

Sekitar tahun 2016, saya baru tahu bahwa Counter-Strike masih bertahan dan memasuki era baru. Agar lebih jago, ada teman saya yang menggunakan gaming gear dan gaming peripheral canggih macam monitor dengan fame rate yang tinggi, mouse khusus first person shooter, headset/plugears khusus gaming dan mechanical keyboard.

Kata dia, kemampuan bermain akan meningkat jauh setelah menggunakan bermacam alat tersebut. Dia pun berubah menjadi cupu ketika bermain di sebuah warnet dengan alat-alat standaran. Hal itu cukup membuktikan bahwa mungkin perkataannya masuk akal.

Saya mencoba bermain dengan menggunakan ID Steam miliknya dan mengetahui bahwa kemampuan saya sangat di bawah rata-rata. Pertama, karena tidak terbiasa dengan alat-alat canggih tersebut dan kedua, karena saya merasa kepala saya sangat pusing menjelang 30 menit saya bermain. Saya memang merasa terkena gejala motion sickness semenjak terkahir bermain Crysis pada 2011.

Dengan segala kekuarangan dan kelebihan tersebut, tak bisa dipungkiri memang saya benar-benar melek bersama Counter-Strike walaupun saya harus mengucapkan selamat tinggal.


[1] Hode adalah monster yang terdapat dalam gim Ragnarok Online: berwarna merah muda dan berbentuk seperti (maaf) alat kelamin pria. Tidak jarang, pemain laki-laki membuat karakter virtual perempuan di dalam gim ini. Karena fenomena itulah, istilah cewek hode muncul dan kurang lebih memiliki arti: karakter cewek berkelamin laki-laki. Istilah ini masih cukup populer dikalangan gamer MMO sampai sekarang.

[2] YARE alias Yet Another Ragnarok Emulator adalah semacam program yang mendukung seseorang dapat memainkan gim Ragnarok secara luring (offline)