Evolusi gim Counter-Strike termasuk evolusi yang cukup berhasil dari gim-gim multiplayer online lainnya. Terbukti sejak hadir pada tahun 1999, komunitas pencinta gim dengan konsep first person shooter ini tetap besar dan terus berkembang secara universal.

Pengaruh-pengaruh Counter-Strike, baik secara langsung mau pun tidak langsung pun turut menghiasi pengalaman hidup saya. Tulisan ini hadir dan didedikasikan untuk anak-anak 90-an yang kehidupannya pernah disinggahi oleh gim ini. Entah itu dalam arti positif mau pun negatif.

Meski pada akhirnya saya tidak pernah menjadi atlet esport atau pemain bintang, tidak terasa saya telah berdinamika bersama gim ini selama hampir 17 tahun. Karena pengalaman pemain dalam konteks skills dan dedikasi tidak mungkin tercermin dari hidup saya, oleh karena itu saya lebih mengedepankan persinggungan gim ini dengan relasi-relasi sosial di kehidupan sayaterutama kepingan-kepingan dinamika kehidupan pelajar ketika bertemu dengan warnet di kota Bandung.

Dengan ingatan yang samar-samar dan gejala motion sickness yang membuat saya bakalan terkena migrain apabila bermain gim FPS dalam jenis apa pun, langsung saja kita buka kontinum waktu.

Setahun Pasca Milenium 

Tahun 2000 lebih dikenal dengan zaman Milenium. Saya ingat tren warna kala itu condong dengan warna perak. Salah satu  TV swasta merayakannya dengan kehadiran serial pahlawan super berjudul Panji Manusia Milenium yang kental dengan kostum hitam-perak.

Banyak yang iri dengan kegantengan Primus sang pemeran Panji dalam serial itu. Saking iri pada kegantengannya, muncul akronim yang cukup ofensif untuk Primus yaitu: Pria Muka Setan. Apakah benar yang membuat akronim itu pernah melihat Setan? Atau hanya murni karena iri? Setelah tersiksa karena mengkomparasikan muka saya dengan Primus, saya pun hanya ikut cengengesan mendengar hal tersebut.

Setahun berlalu, tibalah 2001. Bagi saya, Ruhut Sitompul itu lebih lucu, menghibur, dan aktor mumpuni ketika dia berperan sebagai Poltak Si Raja Minyak dari Medan dalam sinetron Gerhana. Saya mengidolakannya kala itu. Setelah saya dewasa? Saya tidak punya idola.

Duduk di kelas 4 SD, jahitan sunat saya baru saja kering. Tepat 3 tahun pasca ambruknya rezim Soeharto, almarhum ayah saya yang hanya seorang PNS eselon biasatidak bisa memenuhi keinginan berbisa dari bocah seperti saya yang merengek minta Sony Playstation One atau Sega DreamCast. Padahal, saya sering sekali dibelikan berpuluh-puluh Tamiya (Mini 4WD) oleh ayah saya. Ketabahan seperti apa yang harus dimiliki seorang ayah jika memiliki anak macam saya?. [1]

Kekecewaan akan booming PS (Playstation) pun terobati dengan berlama-lama nebeng main PS di rumah teman. Memang dasar bocah ingusan yang gampang bosan, rupanya PS tak cukup dijadikan sebagai hiburan. Saya dan beberapa teman pun memutuskan untuk bermain ding-dong di lantai 3 Bandung Indah Plaza. Kebetulan jaraknya cukup dekat dengan tempat saya mengunyah bangku sekolah, SDN Banjarsari.

Ding-dong dalam konsep mall memaku tarif yang cukup “wow” bagi kantong anak-anak SD. Berlembar-lembar uang bernominal lima ratus rupiah bergambar orang utan serta uang bernominal seratus rupiah bergambar perahu layar pun bisa ludes dalam waktu kurang dari 15 menit akibat bermain ding-dong. Saya bisa makan mewah dengan pempek, cakue mini, ditemani es kelapa, sembari membaca komik Petruk Gareng karya Tatang Suhenra bila tidak main ding-dong.

Dengan banyaknya uang yang terbuang, serta sedikitnya kuantitas waktu bermain—kami mulai sadar dan memutuskan untuk tidak meneruskan kebiasaan bermain ding-dong. Saat pulang, di dekat area Game Center—terdapat sebuah gerai yang bertuliskan PUTRI CANTIK. Setelah ditelisik, ternyata PUTRI CANTIK adalah sebuah warung internet dan arena gim LAN (Local Area Network).[2]

Kurang lebih ada 15 sampai 20 unit komputer di dalamnya. Kala itu, monitor masih berbentuk tabung dan berlayar cembung. Balikkan saja mouse analog tanpa teknologi laser yang ada pada jaman old, kamu akan menjumpai bola sebesar kelereng yang berfungsi menggerakan cursor dalam layar monitor. Keyboard tidak banyak berubah selain plugin-nya yang belum berbentuk USB. Kira-kira seperti itulah perkakas elektronik yang memenuhi warnet PUTRI CANTIK. Bagaimana dengan pengunjung? Rata-rata anak mahasiswa dan SMA.

Ini bukan kali pertama kami ke warnet, tapi ini kali pertama kami ke warnet yang menyediakan gim berkoneksi LAN. Kali pertama saya ke warnet adalah ketika saya dan beberapa teman berkunjung ke warnet dekat komplek rumah saya. Warnet dekat komplek itulah yang menjadi saksi kumpulan bocah SD yang pertama kalinya browsing untuk membuka gambar perihal runtuhnya World Trade Center pada 11 September 2001. Selain membuka gambar-gambar mengenai 9/11, kami pun membuka laman Dagelan yang kala itu adalah situs berkonten mistis dan juga laman Pondok Putri yang isinya pornografi. Bocah kentir![3]

Kembali ke PUTRI CANTIK, kami pun memainkan gim yang sedang ramai-ramainya dimainkan oleh gerombolan mahasiswa dan siswa SMA. Gim perang! Tembak-tembakan! Kelihatannya seru! Kami pun tergiur untuk mencoba! Setelah memberanikan diri bertanya-tanya pada salah satu mahasiswa, kami pun diberi sedikit wejangan perihal Counter-Strike.

Untungnya, orang yang kami tanya bukan pengidap pedofilia. Mungkin kalau iya, kami bakalan disuruh buka celana dan mengalami “hap-hap” dengan modus operandi ala Saipul Jamil. Berhubung tarif billing saat itu berkisar 5000 rupiah/jam, kami pun menyewa 1 komputer untuk digunakan oleh 2 orang. Total, kami menyewa 2 komputer dan dibayar secara patungan—siklus bermainnya seperti ini: sekali karakter mati lalu alih kendali.

Counter-Strike
Tampilan di menu utama dari gim Counter-Strike versi 1.3 (kredit foto: Steam)

Counter-Strike 1.3 adalah versi gim pertama yang saya mainkan. Versi tersebut dirilis sehari setelah tragedi 9/11 dan media massa masih sumpek dengan berita tentang Al-Qaeda dan Taliban. Saat memikirkan IGN (In Game Name) yang akan digunakan untuk bermain, saya memilih Taliban dengan sedikit memodifikasi huruf ‘a’ menjadi ‘@’ agar terlihat keren: T@liban, ‘Alay yah? Lu kayak yang gak pernah alay aja Bosku!’.

Kapasitas saya selaku bocah SD—beranggapan bahwa Taliban itu keren karena menenteng senjata dan berkoar-koar tentang membela hal-hal yang religius. Setelah dewasa, saya merasa buah pikiran dari Sir Muhammad Iqbal, Ali Asghar Engineer, Gus Dur, atau Romo Mangun Wijaya sangat jauh lebih keren daripada wacana kekerasan yang dihadirkan kedua kelompok di atas.

Berbeda dari pemilihan nama yang saya lakoni, para mahasiswa dan siswa SMA lebih memilih nama-nama yang agak “nakal”. Saya ingat, salah satu sosok yang merajai permainan Counter-Strike di PUTRI CANTIK kala itu. Panggilan akrabnya Kuya, entahlah siapa nama aslinya. Kuya lebih suka memakai IGN bernama Pacar Nanda.

IGN itu tentunya bukan nama pacar si Kuya, karena sedari dulu penghuni warnet sudah berteman akrab dengan predikat jomblo militan. Nanda yang dimaksud Kuya adalah bintang dari video mesum amatir yang booming kala itu dan  diperankan oleh Nanda, mahasiswi Unpad Bandung. Di jaman old, video mesum tersebut diperdagangkan secara masif pun ilegal melalui cakram padat berformat VCD dengan kisaran harga 50 ribu rupiah. Adegan syur nan bokep itu populer dengan judul Bandung Lautan Asmara. [4]

Dari titik berangkat itu, saya dan beberapa teman mulai keranjingan Counter-Strike. Kami pun menjadi pengunjung setia PUTRI CANTIK, bocah-bocah SD di tengah pusaran mayoritas pemain yang rata-rata berada pada masa pubertas. Topik-topik pembicaraan di kelas pun bergeser: yang asalnya ngomongin WWF Smack Down, sekarang malah ngomongin kosakata-kosakata baru yang kami jumpai di Counter-Strike.

Tumpukan kosakata baru seperti ngempingkomsethetsot, dan bunny hop pun menghiasi hari-hari kami di sekolah. Ngemping di sini merujuk pada kata camping, istilah yang berarti kondisi ketika seorang pemain bersembunyi dan bersiaga pada satu tempat untuk meringkus musuh yang melintas. Sedangkan komset di sini merujuk pada kata comsat yang diartikan sebagai kondisi ketika pemain mengintip layar milik pemain lain dalam gim LAN demi mengetahui posisi mereka di gim (to spy over a LAN game).

Kalau hetsot? Mungkin ini lebih mudah dipahami oleh kalian pastinya! Ya, merujuk pada kata headshot yang berarti berhasil membunuh karakter lain dengan menembak bagian kepala avatar tersebut. Lalu bunny hop? Merupakan gerakan akselerasi dari kombinasi antara tombol menembak, meloncat, sembari berjongkok. Konon, gerakan ini populer digunakan dengan senjata submachine gun dan shotgun.[5]

Radiasi

Bagaimana dengan nilai-nilai akademis? Saya harus menabung uang jajan selama kurun waktu 5 hari sampai 1 minggu untuk bermain Counter-Strike selama 2 jam. Biasanya, kami bermufakat bersama beberapa teman sekelas untuk menentukan waktu bermain yang intensitasnya sekitar 1 sampai 2 kali per minggu.

Intinya, masalah pelajaran—aman. Bertamengkan les di bimbingan belajar, saya masih bersarang diperingkat sepuluh besar dalam buku rapor. ‘Pembiasan cahaya terjadi karena cahaya melintasi dua medium yang berbeda kerapatannya,’ itu salah satu jawaban yang masih saya ingat ketika di tanya seorang guru—hasil dari les dan kerap membuat saya mengangkat lengan yang belum terkontaminasi bau ketekdi kelas. Saya masih dianggap pintar, karena yang beneran tryhard buat pintar sudah dikarantina ke Kelas Unggulan.

Ada yang sedikit berbeda, mesranya kalimat-kalimat dalam pelajaran bahasa Inggris sekolahan semacam “My name is Budi” pun diselingkuhi oleh pengetahuan bahasa Inggris ala Counter-Strike semisal “Fire in the hole,” “Go go go,” “Need backup,” “Get in position and wait for my go,” “Negative,” dan berujung “Asshole you!“.

Bersambung ke bagian II


[1] Tamiya merujuk pada mainan anak-anak yang terkenal dalam pengertian universal sebagai Mini 4WD alias Mini Four-wheel Drive. Tamiya merupakan nama salah satu produsen Mini 4WD terkenal dari Jepang. Namun, di Indonesia istilah Mini 4WD bermetafora menjadi Tamiya. Meski pun produsen Mini 4WD seperti Audley dan Gokey terdistribusi di Indonesia, mayoritas orang Indonesia tetap menyebut Mini 4WD dengan merk tersebut sebagai Tamiya.

[2] Permainan daring alias online game belum begitu populer di tahun 2001. Tidak jarang, beberapa warnet hanya menggolongkan komputer sewaan mereka dalam 2 kategori: komputer untuk browsing dan untuk bermain gim LAN. Walau pun permainan daring seperti Nexia masuk ke Indonesia sejak Maret 2001, saya merasakan bahwa permainan gim model LAN seperti Counter-Strike lebih banyak dimainkan. Mungkin karena pada zaman itu biaya untuk mengakses internet masih terbilang cukup mahal dan langka sehingga gim LAN lebih populer.

[3] Kentir dalam bahasa Jawa berarti terbawa arus sungai. Sedangkan Kentir dalam bahasa Tegal berarti tidak waras. Jadi, penulis terbawa arus peradaban atau tidak waras?

[4] Bandung Lautan Asmara atau Nanda ITENAS merupakan video mesum yang tersebar dalam bentuk VCD produksi kaum muda yang (terlalu) “kreatif” di Bandung pada tahun 2001. Rumor mengenai video panas ini sempat menjadi berita nasional dan mungkin berhasil menggulingkan kepopuleran novel-novel erotis karya Enny Arrow. Salah satu artikel mengenai kasus ini dapat kalian baca di Jejak Mesum Mahasiswa di Cakram Padat.

[5] Bunny hop atau bunny hopping hanyalah rumor yang beredar layaknya mitos pada Counter-Strike versi 1.3 ke atas. Walau pun teknik bunny hopping sempat populer di versi 1.1 ke bawah, pihak pengembang telah mencegah pemain dapat mengakses teknik bunny hopping sejak versi 1.3. Namun, rumor mengenai beberapa pemain yang jago—tetap bisa melakukan teknik itu kerap terngiang di ingatan penulis walau pun versi resmi mengenai bunny hopping telah dipensiunkan secara resmi oleh pihak pengembang.