Membahas novel visual bertajuk horror, rasanya tak akan lengkap tanpa membahas Saya no Uta. Gim yang memiliki sinonim Song of Saya dalam bahasa Inggris dan mungkin Nyanyian Saya dalam bahasa Indonesia ini telah diterjemahkan ke dalam 11 bahasa termasuk bahasa Jepang.

Novel visual besutan rumah produksi bernama Nitroplus sekaligus salah satu karya penulis skenario jenius asal Jepang bernama Gen Urobuchi alias Gen Urobutcher (Gen mendapatkan julukan ini karena kebanyakan karya-karyanya memang cenderung penuh dengan konten sadistik yang kental dengan cerita yang penuh dengan dominasi tragedi).

Di tengah ladang novel visual yang penuh dengan judul-judul yang bertemakan romansa, Gen menyuguhkan romansa yang jauh berbeda dengan stereotipe cinta-cintaan ala novel visual pada umumnya. Simbol-simbol seperti remaja kelas 2 SMA dan potensi memilih gadis yang disukai dengan sesuka hati tidak akan kalian temui dalam Saya no Uta.

Gameplay

Saya no Uta

Gameplay dari Saya no Uta hampir sama dengan novel visual pada umumnya, hanya terdapat 4 pilihan jawaban dan 3 epilog dalam novel visual ini. Novel visual ini tidak akan membuat para pembacanya pusing untuk menemukan plot atau gambar CG rahasia yang sering terdapat dalam novel yang memiliki cerita panjang dan opsi yang rumit.

Novel visual ini dilengkapi dengan musik latar dan pengisi suara yang membikin atmosfer horror lebih kental terasa di telinga, mata, dan batin para pemain. Novel visual ini tergolong ke dalam novel visual dengan durasi permainan yang cukup pendek (sekitar 2-10jam). Namun, durasi tersebut tidak menghilangkan unsur ketegangan yang akan mencabik-cabik mental para pembaca yang serius mengarungi karya ini.

Terdapat konten kekerasan yang cukup intens, disertai dengan beberapa adegan yang mengandung konten seksual, sehingga Saya no Uta memang tidak cocok bagi kalian yang belum cukup dewasa. Hebatnya, Gen akan membuat kalian yakin jika kedua unsur itu dihilangkan, maka novel visual ini tidak akan mencapai unsur dramatiknya. Konten kekerasan dan seks dalam novel ini seakan membenarkan ke mana cerita akan ‘berlayar’ dan menemukan ‘benua baru’.

Perspektif dalam novel ini memiliki sudut pandang campuran. Terkadang menggunakan sudut pandang orang pertama, terkadang sudut pandang orang kedua, dan juga sudut pandang orang ketiga. Di dalam konteks inilah, pemain akan merasakan gejolak batin protagonis, serta tokoh-tokoh disekitarnya dengan lebih luas dan seksama. Terkadang pemain akan dibuat bingung dengan semua ketegangan yang dihadirkan dalam konflik cerita. Dalam kebingungan itu, cerita akan terus mengalir, tanpa sempat memberikan pemain keputusan: mana yang ‘hitam,’ mana yang ‘putih,’ dan duduk manis dalam area ‘abu-abu’.

Sinopsis

Dalam sebagian besar narasi Saya no Uta, pemain akan berperan sebagai Fuminori Sakisaka seorang mahasiswa jurusan kedokteran yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Semua keluarganya tewas dalam kecelakaan itu, Fuminori sekarat dan mengalami luka yag menghasilkan trauma hebat pada otaknya.

Saya no Uta
Fuminori Sakisaka

Setelah tim medis memutuskan untuk melakukan operasi syaraf yang masih dalam tahap ‘eksperimental,’ nyawa Fuminori bisa dikatakan selamat mesikpun ia harus menjalani proses rehabilitasi yang amat panjang. Sialnya, kesehatan itu nampaknya tidak menghampiri kelima fungsi indra yang ia miliki: ia divonis terkena penyakit sejenis Agnosia.

Saya no Uta
Deskripsi Fuminori mengenai penyakitnya.

Dalam pandangnya, dunia adalah onggokan daging menjijikan yang lembab dan penuh darah, manusia adalah monster tak berbentuk yang sangat menjijikan. Dalam penciumannya, wewangian tercium bagai aroma daging busuk, sampah, dan kotoran. Dalam pendengarannya, suara manusia bagaikan suara distorsi yang akan membikin telinga tak nyaman.

Tak berhenti sampai di situ, makanan yang sehari-hari ia makan, rasanya berubah macam rasa sampah. Semua kondisi yang menimpa Fuminori membuat ia berada pada kondisi ‘mati segan, hidup tak mau’. Terseok-seok dalam bangsal kegilaan, definisi yang tepat untuk menghadirkan neraka di atas dunia yang ia pijak.

Saya no Uta
Gambaran Fuminori terhadap dunia setelah menderita Agnosia.

Sewaktu ia akan memutuskan untuk bunuh diri di bangsal rumah sakit, terbitlah secercah harapan. Ia dapat melihat satu-satunya keindahan yang termanifestasikan dalam sesosok gadis bernama Saya. Ketika dunia seakan menolaknya, kelima indra Fuminori nampaknya mengidentifikasi Saya sebagai seorang manusia normal berperawakan gadis tanggung (Loli merupakan istilah populer dalam subkultur Jepang untuk mendeskripsikan gadis berperawakan seperti Saya).

Saya no Uta

Gadis itupun terheran-heran, mengapa Fuminori tidak takut dengan kehadirannya? Ketika pasien yang lain ketakutan melihatnya, Fuminori malah memohon untuk bertemu dan mengobrol panjang lebar dengan Saya. Dalam keputusasaan dan kesendiriannya itu, Fuminori bahkan mengajak Saya untuk pindah ke rumahnya setelah ia diperbolehkan pulang.

Saya no Uta

Akhirnya, Saya pun setuju. Perlahan semangat hidup Fuminori kembali bersinar. Ia pun berusaha keras menjalani kehidupan dengan bantuan dari Saya. Gadis ini nampaknya berusaha mencari ayahnya yang ia klaim bernama Ogai Masahiko, seorang dokter dan peniliti dari Universitas T. Fuminori pun setuju untuk membantu mencarinya.

Begitulah hari-hari berlalu, setelah kembali berkuliah, sikap Fuminori pun berubah ketika menghadapi ketiga sahabatnya: Yoh, Koji, dan Omi. Yoh adalah gadis yang sedang ia ‘modus’-i sebelum mengalami kecelakaan. Koji adalah sahabat lelaki terdekatnya, dan Omi adalah pacar dari Koji.

Bisa kalian bayangkan mengapa sikap Fuminori dingin kepada mereka, ketika kelima indranya memaksa Fuminori untuk melihat wujud mereka berubah menjadi monster, dan semua perkataan teman-teman mereka adalah suara distorsi yang tak jelas. Kesadaran janggal yang dimiliki Fuminorilah yang membuatnya bersikap seperti itu. Keindahan satu-satunya yang dapat ia rasakan hanyalah sosok Saya.

Ikatan Fuminori terhadap dunia semakin memudar, sedangkan ikatannya terhadap Saya semakin intens. Mereka terlibat dalam kisah cinta, hubungan badan, dan mencoba membangun kehidupan bersama-sama. Dalam petualangan mereka, Omi sang kekasih Koji harus meregang nyawa setelah berusaha menyelidiki rumah Fuminori. Saya membunuh dan memakan Omi.

Saya no Uta
Adegan ketika Saya menyantap Omi dalam sudut pandang Fuminori.

Adegan Saya membunuh Omi tak sengaja terekam oleh Fuminori. Saya pun kaget dan mencoba menutupi tingkah lakunya. Fuminori tidak marah, lagipula Omi yang sudah ‘diolah’ oleh Saya tidak nampak seperti manusia dalam mata Fuminori. Justru sebaliknya, apa yang sedang dimakan oleh Saya berwujud seperti manisan buah yang kemudian membangkitkan nafsu makan Fuminori yang telah lama hilang. Akhirnya mereka menyantap Omi secara bersama-sama secara lahap.

Selain Omi, Fuminori dan Saya menyantap daging tetangganya yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak. Kenyataanya, mereka secara tidak langsung membunuh tetangganya ketika Saya melakukan ‘eksperimen’ terhadap Sang kepala keluarga.

Bila dalam pandangan Fuminori Saya adalah seorang gadis yang kawai, bisa kalian bayangkan bagaimana pandangan manusia ketika melihat sosoknya? Dalam cerita pun Saya nampaknya masih lugu dengan kemanusiaan. Dia nampak lugu, tidak mengetahui apa itu norma dan moral.

Meskipun begitu, nampaknya ia terus belajar mengenai manusia dari ayahnya yang bernama Ogai Masahiko dan tentu saja sedikit dari Fuminori. Saya nampaknya sangat antusias dan ingin sekali mengerti dan menjadi manusia, kebutuhan alami untuk makan apa yang tidak dimakan oleh manusialah yang mencegahnya,

Di sisi lain, Fuminori sedikit demi sedikit kehilangan rasa kemanusiaannya. Agnosia akut yang ia derita memaksanya untuk bertindak menjauh dari nalar manusia. Ia tidak peduli dengan nilai-nilai norma dan moral, asalakan ia bisa terus bersama dengan Saya.

Peringatan: “Pada bagian selanjutnya dari artikel ini berisi tentang ‘spoilers’ mengenai epilog dari Saya no Uta yang bertujuan untuk menginformasikan pembaca yang tidak ingin memainkan gim ini karena memiliki unsur seksual. Bagi pembaca yang berminat memainkan gim ini dan sangat anti-spoilers diharapkan tidak perlu membacanya”.

Tiga Akhir Cerita yang Penuh Makna Ganda

Saya no Uta memiliki 3 epilog. Semuanya tidak bisa dibilang bahagia, cenderung relatif, serelatif pembaca yang memaknainya. Yang jelas, makin banyak darah yang tertumpah.

  • Epilog Pertama
Fuminori yang telah sembuh berkat bantuan Saya. Setelah divonis gila, ia mendekam dalam RSJ.

Dalam epilog pertama, Saya menawarkan Fuminori untuk mengobati agnosia yang ia derita. Saya mengklaim tidak akan ada satupun dokter manusia yang mampu menyembuhkannya, hanya Saya yang mampu menyembuhkannya. Seketika itulah Fuminori sadar bahwa Saya bukanlah manusia, gadis itu tak mengelak. Kemudian, Fuminori berandai-andai bagaimana wujud Saya dalam pandangan manusia-manusia normal?

Saya no Uta

Setelah menerima tawaran tersebut, Saya nampak menyentuh bagian kepala Fuminori secara perlahan. Fuminori pun tertidur.

Setelah terbangun, kelima panca indra Fuminori pun kembali seperti sedia kala, Fuminori pun menjumpai kekacauan di rumahnya. Mayat dan darah bergelimpangan di dapur, kulkasnya penuh dengan organ tubuh manusia. Setelah berteriak histeris, dia menelepon Polisi. Tidak ada sosok Saya, sosok gadis itu menghilang semenjak Fuminori sembuh total.

Polisi menahan Fuminori atas dakwaan pembunuhan. Setelah Fuminori menceritakan apa yang telah dialaminya, polisi berkesimpulan bahwa kondisi mental Fuminori benar-benar terganggu. Mereka mengirim Fuminori ke Rumah Sakit Jiwa.

Fuminori masih sangat setia ingin menemui Saya, namun apa daya? Dia terkurung dalam ruangan yang ia deskripsikan serba putih teresebut. Sampai suatu malam, Saya pun mengunjunginya.

Saya tidak menunjukkan sosok aslinya pada Fuminori. Saya terdengar berjalan bagaikan onggokan daging basah yang terseret dalam pendengaran Fuminori yang sudah normal. Saya pun tidak berbicara, dia hanya melemparkan sebuah ponsel yang nampak lengket oleh cairan, ponsel itu telah berisi pesan yang ternyata ditulis oleh Saya.

Saya hanya punya sebuah permintaan: “Tolong ingatlah sosok Saya, persis ketika mereka bertemu pertama kali.” Saya berencana untuk terus mencari Ayahnya. Fuminori menawarkan untuk kembali padanya bila ia tidak menemukkan ayahnya. Setelah bertukar pesan melalui ponsel, mereka pun berpamitan.

Saya no Uta

Dan lalu, Fuminori pun menunggu. Sembari bermimpi melihat wajahnya, mendengar suaranya, pria itu menunggu. Selamanya, dalam dunia ‘putih’ miliknya.

  • Epilog Kedua

Dalam epilog kedua, Fuminori menolak untuk sembuh. Yang ia inginkan hanyalah hidup dengan Saya, walaupun ia harus membuang kemanusiaannya. Alkisah, ada beberapa orang yang berusaha untuk menghentikan mereka termasuk Koji si sahabat Fuminori.

Saya berhasil membunuh Koji dan memakannya. Setelah kejadian itu, ternyata Saya malah tersungkur lemas. Fuminori pun panik dan memeluknya erat. Saya menyuruhnya untuk membawanya ke area terbuka, Fuminori menurutinya.

Terlihat sekarat, Saya pun berjanji untuk memberikan hadiah terindah untuk Fuminori. Dia bergumam, bahwa dia akan memberikan planet ini untuk satu-satunya orang yang sangat ia cintai. Lalu, Saya pun berjanji bahwa Fuminori akan melihat kembali keindahan, walau ia menolak sembuh.

Saya no Uta

Saya no Uta

Saya no Uta

Walaupun Saya tergolong makhluk asing, ia tidak dapat lepas dari tujuan utama semua makhluk hidup: reproduksi. Setelah mempelajari bahwa reproduksi manusia harus melewati proses yang bernama cinta, ia pun akhirnya mengalaminya melalui sosok Fuminori.

Saya merupakan entitas yang dapat merubah kode genetik sesuai dengan kehendaknya. Kemampuan biologis Saya mampu memutasikan sperma yang ia dapatkan dari Fuminori menjadi ‘bibit’ untuk memutasi seluruh manusia menjadi mahkluk semacam Saya.

Dengan memutasi seantero planet dengan spora yang ditebarkan oleh Saya, alhasil Fuminori sekali lagi akan dapat melihat ‘keindahan’ dunia. Keindahan yang benar-benar sinis dan egois, setelah dunia ‘menjauh’ darinya, dia menghadirkan kiamat bagi dunia tua, dan menciptakan dunia baru bersama Saya dan pengorbanannya.

  • Epilog Ketiga

Plot alternatif ketika hasil dari epilog kedua berhasil digagalkan berkat usaha Koji dan Dr. Ryoko yang telah mempelajari catatan Dr. Ogai mengenai entitas bernama Saya. Ryoko berhasil menemukan fakta bahwa Saya adalah makhluk dari dimensi lain yang tiba ke planet ini berkat eksperimen Ogai.

Saya no Uta

Dalam catatan tersebut, terungkap bahwa kemampuan intelejensia dari Saya sangatlah jauh di atas kemampuan superkompter tercanggih sekalipun. Hal tersebut telah menjawab beberapa narasi pada epilog pertama dan kedua.

Dalam catatan tersebut, Saya mendeklarasikan dirinya sebagai ‘entitas yang membutuhkan benih dari jenis kelamin jantan/pria,’ entitas itu kemudia mendefinisikan dirinya sebagai seorang perempuan.

Saya no Uta

Setelah mengetahui morfologi mengenai Saya, Ryoko pun semakin mengetahui impuls naluriah dari Saya. Karena wujudnya yang menyeramkan, hal itu akan mengahalanginya untuk bereproduksi. Untunglah ia bertemu Fuminori, yang dalam penyakit agnosia yang dideritanya, halangan itu tak akan jadi soal.

Saya no Uta

Alkisah, Ryoko berhasil mengkonfrontir Saya dan membunuhnya dengan cairan yang mengandung unsur minus 197 derajat celcius. Dengan cairan itu, Ryoko berhasil membunuh Saya yang memiliki tingkat regenerasi yang tinggi  bila hanya dihadapi dengan senjata konvensional biasa.

Dalam prosesnya, Ryoko tewas di tangan Fuminori. Setelah melihat kekasihnya hampir mati, Fuminori pun menghujamkan kapak ke kepalanya dan tewas. Koji, yang menjadi saksi dari semua peristiwa itu melihat Saya yang tengah sekarat berusaha menghampiri mayat Fuminori.

Koji menghajar Saya dengan pipa ketika makhluk itu berusaha meraih Fuminori. Akhirnya, makhluk tersebut mati setelah berpegang erat dengan mayat Fuminori.

Setelah kejadian itu, Koji seringkali bermimpi buruk. Ia sering dihantui mimpi tentang kedua sahabatnya Fuminori, Yoh, dan kekasihnya Omi yang semuanya telah tewas.

Saya no Uta
Mimpi buruk Koji

Setelah terbangun pun, terkadang Koji sering berdelusi tentang kehadiran alhmarhum Dr. Ryoko di kamarnya. Ryoko seakan memberikan analisa tentang kondisi mentalnya. Sosok tersebut terkadang hilang dan muncul tidak terduga.

Saya no uta
Percakapan imajinatif antara Koji dan Ryoko perihal kondisi mental Koji.

Tertekan dan sendirian adalah hari-hari yang harus dilalui Koji. Epilog ditutup dengan kata-kata yang menjabarkan bahwa bunuh diri akan menawarkan koji sebuah resolusi.

saya no uta
Kalimat penutup yang mendeskripsikan niat bunuh diri Koji.

Kesimpulan

Saya no Uta tidak cocok bagi orang-orang yang belum cukup dewasa dalam berpikir dan bertindak. Konklusi yang dihadirkan dalam novel visual ini terlalu kompleks, cocok bagi orang-orang yang senang dengan sudut pandang baru dan bersiap menerima perbedaan sebagai fitrah yang dapat dipelajari.

Bagi penggemar novel-novel horror dan psikologis semacam karya-karya Thomas Harris dan Hannibal Lecter-nya, Saya no Uta mungkin cocok bagi kalian. Bagi orang-orang yang terbiasa hidup dengan norma, moral, dan ‘keindahan’ umum, akan sulit bagi kalian untuk menikmati karya ini.

Saya no Uta pun cocok bagi kalian yang sedang ingin mencari referensi cerita mengenai fiksi ilmiah. Terdapat banyak juga referensi tentang aspek-aspek kejiwaan, biologi, bahkan sedikit okultisme.

Dengan ini, penulis pun mengakhiri ulasannya, disertai dengan degup jantung yang belum stabil karena terlalu menghayati novel visual ini berkali-kali.