Ghost of Tsushima merupakan gim yang akan segera rilis dalam waktu dekat. Berlatar suasana Jepang di era Kamakura, gim ini mencoba memfokuskan tentang epos kepahlawanan seorang samurai bernama Jin Sakai yang mencoba menghalau tentara Kublai Khan dengan jurus yang ia kembangkan bernama The Way of the Ghost.

Seperti yang mungkin kita ketahui bersama, Mongol merupakan bangsa yang sangat kuat di bawah kekuasaan Genghis Khan dan beberapa keturunannya. Mereka berhasil menjadi ras yang hampir menguasai dunia di zamannya. Namun pada kenyataan hari ini, wilayah kekuasaan mereka tidak lebih kecil dari sebelum mereka melakukan invasi.

Invasi oleh pasukan Mongolia pun pernah menyerang Indonesia, tepatnya di daerah Tuban pada tahun 1292. Titah Kublai Khan dari Khan Baliq (sekarang Peking) untuk menginvasi pun terjadi di Tuban. Seperti tsunami, prajurit-prajurit Tartar mendarat dari laut, “menyapu” Tuban yang sama sekali tak mampu untuk membendung teknologi senjata api. Setelah memberangus Tuban, balatentara itupun berangkat untuk menggempur Singasari.

Yah, sedikitnya kita mengetahui, bahwa Indonesia dan Jepang pernah sama-sama diinvasi oleh Mongol. Baiklah, mari kita kembali ke pembahasan mengenai cuplikan sejarah yang diambil oleh Ghost of Tsushima.

Dua Kali Menginvasi

Dalam catatan sejarah yang berserakan, tercatat Mongolia pernah menginvasi Jepang sebanyak dua kali: pada tahun 1274 dan 1281. Ghost of Tsushima sendiri mengambil cuplikan sejarah saat Mongol menginvasi Jepang untuk yang pertama kali pada tahun 1274. Mongolia mencoba menginvasi Jepang dari arah laut. Mereka mengarahkan pasukannya yang berasal dari Cina dan Korea (koloni Mongol pada era itu) menuju ke arah Jepang.

Karena pada saat artikel ini ditulis, gim ini belum rilis, kita hanya bisa sedikit melihat suasana dalam gim yang memfokuskan trailer-nya pada saat hari ke-9 invasi Mongol terhadap Jepang. Jin Sakai sebagai protagonis terlihat sedang berusaha menyelamatkan seorang biksu yang ditawan pada sebuah kuil. Jin Sakai berujar kepada temannya bernama Masako (bukan bumbu masakan), bahwa mereka membutuhkan biksu tersebut.

Belum jelas, apa maksud dari Sakai bahwa mereka membutuhkan biksu. Apakah mungkin karena Mongol dan Jepang memiliki suatu sistem kepercayaan yang hampir sama sehingga jalan damai mungkin bisa diciptakan ketika pemuka-pemuka agama berbicara?

Penyebab

Pada tahun 1266, cicit Genghis Khan yang bernama Kublai Khan menunda kampanyenya untuk menaklukan seluruh wilayah Tiongkok dan mengirim sebuah pesan kepada utusan yang menghadap Kaisar Jepang (Shogun). Kublai Khan menganggap remeh Shogun dengan menjulukinya “Penguasa Sebuah Negara Kecil,” dan memaksa kedaulatan Jepang untuk membayar sejumlah upeti kepadanya. Utusan Khan kembali dari Jepang dengan tangan hampa. Selama 6 tahun, Kublai Khan mengirimkan utusannya sebanyak lima kali. Namun, Shogun tidak mengizinkan mereka mendarat di pulau Honshu (pulau utama).

Pada tahun 1271, akhirnya Kublai Khan berhasil menumpas Dinasti Song dan menyatakan dirinya sebagai Kaisar dari Dinasti Yuan Tiongkok. Sang Kaisar Baru tidak terima dengan kelancangan yang dilakukan oleh Jepang, dan ia menuntut penyerangan terhadap Jepang yang harus segera dimulai pada awal tahun 1272.

Namun, penasihatnya menyarankan Khan menunggu sampai armada kapal perang yang kuat dibuat berhasil mencapai 300-600 unit. Ketika rampung, kapal-kapal tersebut akan berlayar dari galangan kapal di Cina Selatan dan Korea. Kapal-kapal tersebut akan diperkuat dengan balatentara yang berjumlah sekitar 40.000 orang. Jepang yang sedang dilanda persaingan dan perselisahan antar klan Samurai hanya berhasil mengumpulkan sekitar 10.000 orang. Bisa kita bayangkan: di atas kertas, Jepang pasti ditumpas.

Akhirnya Tiba, Invasi Pertama

Dari pelabuhan Masan di Korea Selatan, bangsa Mongol beserta pasukannya melancarkan serangan Step-wise Attack (Serangan Langkah Demi Langkah) terhadap Jepang pada musim gugur tahun 1274. Jumlah kapal berukuran besar dan kecil—diperkirakan berjumlah antara 500 sampai 900—keluar menuju Perairan Jepang.

Tsushima

Di langkah awal, Mongol merebut pulau Tsushima dan Iki (kedua pulau yang menjadi pertengahan antara ujung semenanjung Korea dan pulau-pulau utama Jepang. Diperkirakan ada 300 warga Jepang yang melakukan “Serangan Putus Asa” menghadapi gelombang tentara. Pasukan Mongol membantai mereka semua dan berlayar ke arah Timur.

Nah, pada cuplikan inilah Jin Sakai seorang tokoh fiksi dari Ghost of Tsushimamengambil peran. Dia mencoba mempertahankan pulau Tsushima dengan teknik pedangnya yang bernama The Way of the Ghost. Bila dilihat dari trailer-nya, Jin Sakai nampak begitu heroik ketika mencoba membasmi pasukan Mongol seorang diri.

Tsushima
(Kredit: Sucker Punch Productions, Sony)

Dalam skenario pertarungan “satu lawan banyak,” inilah mungkin kata “Ghost” dalam gim ini muncul. Ilmu pedang yang digabungkan dengan siasat menjebak lawan dalam senyap mungkin akan mengingatkan kita tentang strategi gerilya perang Vietnam yang dipraktekan oleh Vietcong dengan “Manuver Hantu”. Pada masa itu, Vietnam yang inferior dari segi kekuatan berhasil mengusir Amerika Serikat yang hanya bisa membalas kekalahan memalukan tersebut dengan membikin film Rambo.

Baiklah, mari kita lanjutkan ke aspek sejarah dari invasi Mongol.

Pada tanggal 18 November, armada Mongol mencapai Teluk Hakata, dekat kota yang sekarang bernama Fukuoka di pulau Kyushu. Sebagian besar sumber sejarah mengenai kejadian ini berasal dari gulungan (scroll) yang diwartakan oleh seorang samurai bernama Takezaki Suenaga yang juga ikut berjuang melawan Mongol.

Kelemahan Militer Jepang

Suenaga menceritakan bahwa para samurai bertarung dengan kode etik bushidomereka; seorang pejuang akan melangkah keluar, mengumumkan nama dan garis keturunannya, kemudian bersiap untuk pertempuran satu lawan satu dengan musuh. Sayangnya, ada semacam culture shock: tentara Mongol tidak peduli dengan kode etik tersebut karena memang sebelumnya tidak pernah mengenalnya. Alhasil, ketika seorang samurai maju sendirian dan melaksanakan kode etik tersebut, tentara Mongol tetap akan menyerangnya secara massal, ibarat oknum suporter yang mengeroyok suporter lain yang tidak satu bendera.

Untuk membuat keadaan bertambah buruk bagi Jepang, pasukan Mongol juga menggunakan panah beracun, catapult (senjata pelontar yang menggunakan prinsip terminal balistik) yang berpeluru bahan peledak, dan busur panah berdiameter pendek dengan teknologi akurasi yang mengalahkan akurasi busur panah panjang milik Jepang. Pasukan Mongol, selalu bertarung secara berkelompok dan menggunakan isyarat Genderang Perang dalam setiap koordinasi perangnya. Semua hal tersebut adalah “barang baru” bagi pasukan Jepang, ketidaktahuan tersebutlah yang membuat perang semakin tak berimbang.

Yang mungkin bakalan bikin calon pemain penasaran; apakah teknologi dan strategi militer milik Mongolia tersebut akan hadir sebagai faktor yang harus dihadapi Jin Sakai di Ghost of Tsushima?

Takezaki Suenaga dan tiga prajurit dari klannya bertarung tanpa menggunakan kuda kavaleri, dan mereka mengalami luka yang cukup serius. Samurai-samurai yang terluka pun akhirnya mundur beberapa mil dari teluk pada malam hari. Saat malam tiba, angin kencang dan hujan lebat mulai mencengkram daerah pantai.

Kamikaze, Topan yang Menyelamatkan Jepang

Istilah kamikaze mungkin lebih dikenal orang dengan siasat Jepang pada Perang Dunia ke-2 yang berupa: menabrakan pesawat terbang berawak ke pasukan lawan. Istilah kamikaze saat perang dunia ke-2 pun pamornya populer layaknya serangan Blitzkriegmilik Nazi Jerman.

Namun, istilah kamikaze dalam “arti yang lebih nyata” ternyata berasal dari era Kamakura saat diinvasi Mongolia. Kami dalam bahasa Jepang bisa diartikan sebagai Tuhan atau dewa, sedangkan Kaze dalam bahasa Jepang bisa diartikan sebagai Angin. Jadi kamikaze bisa kita artikan sebagai “Angin Tuhan”.

Nah, bagaimana awal mula lahirnya istilah tersebut?

Tanpa sepengetahuan Jepang, para pelaut Cina dan Korea di atas kapal pasukan Kublai Khan sibuk membujuk para Jendral Mongolia untuk membiarkan mereka menangkat jangkar kapal dan berlayar lebih jauh ke arah laut. Mereka khawatir angin kencang dan ombak tinggi akan membuat kapal mereka kandas di Teluk Hakata.

Para Jendral pun mengalah, dan armada besar berlayar ke arah perairan terbuka—yang langsung disambut oleh angin topan yang besar. Dua hari kemudian, sepertiga kapal milik Dinasti Yuan itu pun tergeletak di dasar Pasifik, dan diperkirakan 13.000 tentara Kublai Khan ikut hanyut.

Akibat angin tersebut, para pasukan Kublai Khan pun tertatih-tatih mundur dan Jepang pun terhindar dari kekuasaan Khan—untuk sementara waktu. Angin tersebut pun kemudian akrab disebut sebagai Kamikaze oleh masyarakat Jepang. Hebatnya, pada saat invasi Mongol pada tahun 1281, cara Mongol terusir dari pulau Kyushu pun sama: akibat terjangan badai yang membinasakan armada Mongolia.

Menunggu Jin Sakai

Dari cuplikan sejarah di atas, bagaimanakah cara Sucker Punch Productions mengolah gim yang kemungkinan besar bisa dikatakan sebagai gim semifiksi? Bagaimana cara mereka memanfaatkan timeline sejarah agar bisa diintegrasikan dengan fondasi cerita yang akan dibangun?

Siapa Jin Sakai? Apakah dalam gim ia akan berinteraksi dengan penyintas (survivor) dari Invasi Mongol bernama Takezaki Suenaga? Pengalaman sejarah yang seperti apa yang kelak akan pemain rasakan ketika beririsan dengan gim ini?


Sumber Referensiwww.thoughtco.com/the-mongol-invasions-of-japan-195559