Di zaman sekarang, hampir semua masyarakat urban mungkin pernah bermain gim. Ada yang bermain dengan komputer, ponsel, dan konsol. Peluang gim dinikmati oleh bermacam lapisan masyarakat pun terbuka luas akibat terbukanya akses-akses tersebut.

Varian dari gim pun semakin banyak. Segmentasi-segmentasi dari gim pun hadir semakin variatif layaknya varian produk susu; bayi, batita, anak, anak yang alergi, dewasa, ibu hamil, meningkatkan berat badan, meningkatkan massa otot, dan lansia.

Sampai kemudian pilihan-pilihan akan gim dan mesin yang pemain mainkan pun ramai dipersoalkan—bahkan sampai dipergunjingkan. Dalam artikel inilah penulis ingin mengajak para pembaca, khususnya yang pernah bersentuhan dengan gim untuk menyimak fenomena yang lahir dari kasus ini.

Distingsi Akibat Preferensi

Dalam pengertian umum, distingsi dapat diartikan sebagai “jarak sosial” yang diakibatkan oleh pilihan selera. Sebagai misal, pemain gim Fortnite lebih menganggap rendah derajat pemain CS;GO dan PUBG karena gim tersebut lebih banyak membutuhkan skill mekanik (mechanical skill) yang lebih rumit.

Contoh di atas diambil dari konteks skill. Distingsi juga bisa lahir dari bermacam faktor lainnya. Terutama masalah: “produk apa yang gamer konsumsi”. Misalkan pemain yang memainkan gim berjenis pay to play merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan pemain yang memainkan gim berjenis free to play. Gamer yang bangga menggunakan mesin keluaran Sony dan memandang rendah mesin Microsoft beserta pemainnya juga bisa juga masuk dalam golongan ini.

Kalau dalam kasus penggemar moba, mungkin kasusnya adalah perang kata antar fans Dota 2LoLMobile LegendAoV, dan Vain Glory. Jika peta konflik semakin melebar, kemungkinan untuk perang-perang tak substansial yang dilakukan oleh oknum suporter sepak bola pun mungkin akan segera terjadi di ranah ini.

Dalam kasus gamer yang senang memainkan novel visual (visual novel), tidak jarang beberapa orang menstempel semua orang yang memainkan gim berjenis ini adalah seorang yang cenderung amoral dan mesum hanya karena beberapa novel visual memang memiliki konten seksual yang eksplisit. Padahal, kemungkinan pemain tersebut membaca/memainkan novel visual karena memang lebih menekankan faktor cerita sebagai preferensi utamanya dalam memainkan novel visual.

Dari contoh-contoh di atas, perlahan-lahan terasa bahwa hampir semua aspek kehidupan tidak lebih hanya sebagai objek. Melalui “objek-objek” tersebut, seseorang dalam masyarakat seakan menemukan makna dari eksistensi dirinya ketika menenggak seongok produk barang dan jasa tersebut. Distingsi pun lahir akibat dari makin berlainannya pilihan orang-orang dalam preferensinya (kegemaran/kesenangannya).