Bila melihat Jepang pada masa sekarang, tentunya pikiran kita akan tertuju pada pesatnya perkembangan teknologi, seni, dan kebudayaan dari negara Asia yang pernah menjadi penjajah selain Mongolia. Dalam perspektif kesenian, karya-karya dari Jepang telah berhasil menyumbangkan jutaan inspirasi yang memiliki nilai positif dan negatif secara bersamaan.

Melalui tema besar di atas, artikel ini mencoba merumuskan sejumlah faktor yang membuat karya-karya dari Jepang—terutama perihal kultur pop Jepang yang semakin hari semakin mendunia. Hal ini diharapkan dapat membantu para penikmat karya-karya dari Jepang dan juga para kreator serta calon kreator yang masih belum terbayang—kenapa para kreator dari Jepang berhasil membidani karya yang memiliki ciri khas yang mendunia. Mari kita mulai saja!

Di balik ikemen, kawai dan moe-nya tampilan visualiasi karakter fiksi, di belakang kutipan-kutipan dari anime, manga, light novel, novel visual, J-dorama, live-action yang menurut kita inspiratif—tersimpan jutaan ide-ide yang bersumber dari kubangan lembah literatur yang menjadikan karya-karya dari Jepang sangat menarik.

Kreator kontemporer yang memprakarsarai karya-karya dari Jepang —sering sekali mengambil referensi-referensi dari bermacam literaturbaik itu sastra maupun filsafat. Terbukti, dari beberapa karya populer Jepang yang menyimpan jejak-jejak dari karya-karya sastra besar yang terkadang mereka sisipkan dalam karya kontemporer mereka.

Perlu contoh atau bukti? Mari kita ambil contoh dari beberapa karya populer Jepang, dimulai dari Oregairu atau yang lebih dikenal dengan Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteirusebuah karya yang karakteristik protagonisnya melekat kuat pada para penggemar anime dan light novel.

karya-karya dari jepang
Hikigaya Hachiman sedang membaca buku (yaharibento.wordpress.com)

Hikigaya Hachiman, sang protagonis dari oregairu—terkenal dengan kutipan-kutipannya yang cenderung berbeda dalam memaknai hidup. Dalam versi light novel-nya, terungkap buku seperti apa yang sering dibaca bagaikan kitab oleh Hachiman—ialah Ningen Shikakku sebuah magnum opus dari penulis terkenal bernama Osamu Dazai.

karya-karya dari jepang
Osamu Dazai (alchetron.com)

Kalau anda pernah atau telah membaca Ningen Shikakku, pastinya anda akan mengerti mengapa karakter bernama Hikigaya Hachiman berkepribadian eksentrik dan tergolong berbeda daripada rata-rata pola pikir pelajar di usianya.

Masih berbicara tentang Dazai, Ningen Shikakku yang konon masih menduduki peringkat ke-2 dalam peringkat novel terlaris di Jepang ini menginspirasi karya seperti anime dan manga berjudul Aoi Bungaku.

Beberapa orang di luar tradisi kultur Jepang—mengenal Dazai dari anime berjudul Bungo Stray Dogsdi sini Dazai diartikan ulang sebagai tokoh detektif fiksi yang doyan bunuh diri namun gagal matiserta mempunyai jurus sakti bernama Ningen Shikkaku. Sebagai informasi, Bungo Stray Dogs adalah anime yang mendekonstruksi ulang beberapa penulis Jepangmenjadi tokoh-tokoh fiksi dalam anime tersebut.

karya-karya dari jepang
Osamu Dazai dalam perspektif anime berjudul Bungo Stray Dogs

Dalam anime komedi berjudul Tonari no Seki-kun, karya Osamu Dazai berjudul Run Melos! pun disisipkan sebagai mata pelajaran yang akan dibahas dalam salah satu adegan dalam anime tersebut. Tak ketinggalan, Run Melos! sendiri telah diadaptasi dalam bentuk anime dengan judul yang sama.

Melihat fakta di atas, terlihat bahwa karya-karya populer Jepanginspirasinya tak pernah lepas dari karya sastra penulis lokalnya. Karya Dazai masih sangat membekas dalam kesusastraan Jepang dalam segala dimensi usia, ditambah dengan apresiasi dari para kreator muda yang ikut mengabadikan pandangan Dazai dalam relung karya terkini mereka.

Bagaimana bila kita bandingkan dengan semesta kesusastraan Indonesia? Penulis Indonesia sekaliber Dazai seperti contohnya Pramoedya Ananta Toer justru namanya seringkali dihitamkan. Dengan kata penghakiman ajaib yang menjadi hantu dan ladang isu bagi belantara hoax Indonesia macam kata “komunis”, orang-orang seakan enggan membaca karya-karya sastra dari penulis yang sudah mendapat apreasiasi dan penghargaan dalam kaca mata internasional.

Padahal, dalam kenyataanyakarya-karya Pramoedya tidak pernah berafiliasi dengan suatu corak ideologi tertentu. Karya-karyanya justru sangat kental dengan semangat kemerdekaan dari pra-Indonesia sampai pasca-kemerdekaan Indonesia. Mungkinkah para manusia Indonesia masih doyan melestarikan budaya ad hominemMungkin saja foto-foto syur di Instagram lebih asyik daripada melebarkan pandangan pemikiran?

Selain sastra, karya-karya Jepang pun menemukan pengulangan makna dalam varian karya yang menyisipkan pemikiran para filsuf dunia. Contoh yang akan kita ambil kali ini adalah salah satu filsuf eksistensialis terkenal bernama Friedrich Nietzsche.

Teaser dari anime berjudul Berserk yang mengutip karya Nietzsche berjudul Beyond Good and Evil (NBCUniversal Anime/Music)

Karya Berserk sangat terinspirasi dari pemikiran-pemikiran Nietzsche, terbukti dari video promosi anime ini yang mengutip salah satu pemikiran Nietzsche dari karya berjudul  Beyond Good and Evil. Kira-kira, inilah terjemahan dalam bahasa Inggris dari teks dalam gambar di atas:

“Who goes to fight monsters best see to it that he does not become the monster himself. And when you stare long into the Abyss, the Abyss also stares back into you.”

Kemudian, berikut terjemahan bebas dari penulis perihal kutipan tersebut:

“Cara terbaik untuk melawan monster adalah dengan memastikan bahwa dia tidak menjadi monster itu sendiri. Dan ketika kamu terlalu lama menatap kegelapan, sang kegelapan akan berbalik menatapmu.”

Apa jadinya jika kita seret kutipan-kutipan itu bagi orang-orang yang membunuh secara hakiki dan verbal atas nama NKRI harga mati sedangkan rakyat harga grosir? Atau orang-orang yang membunuh secara hakiki dan verbal atas nama Tuhan, isu rasial, bahkan gender? “Mungkin kalian bisa pikirkan dan refleksikan sendiri, karena di sini kita sedang membahas semangat literasi.”

karya-karya dari jepang
Nietzsche, kredit foto: Kanal Youtube bernama The School of Life

Selain itu, bila kalian penggemar Berserk—pastinya kalian sudah tidak asing dengan jalan ceritanya yang sangat kental dengan pemikiran-pemikiran Nietzsche; kalian akan menemukan bagaimana manusia mulai mempertuhankan simbol daripada makna, jalan hidup seorang manusia super (Übermensch dalam kamus Nietzsche) yang tak ingin terjebak dalam ladang candu hegemoni masyrakat, bagaimana Gutssang protagonis dari serial ini mencoba memberangus sistem hierarki yang sangat Nietzsche benci.

karya-karya dari jepang
Cuplikan kutipan Guts dalam manga Berserk karya Kentarou Miura.

Sebenarnya masih banyak karya-karya literatur yang kerap disisipkan dalam kultur pop Jepang seperti contoh; kutipan-kutipan Ivan Turgenev dalam drama jepang (J-dorama) berjudul My Boss My Hero, atau salah satu anatgonis dalam anime Big Order yang mengutip Sigmund Freudserta lagi-lagi ya Hoshimiya Sena si Imoutou yang membaca buku Nietzsche.

karya-karya dari Jepang
Hoshimiya Sena, salah satu tokoh dari anime berjudul Big Ordersedang membaca buku Nietzsche.

Artikel ini hanya memberikan beberapa contoh tentang sebagian inspirasi yang menjadi salah satu faktor dari kemajuan karya-karya dari Jepang mendunia. Di luar sana, masih banyak karya-karya dari Jepang yang terinspirasi dari menara literatur dunia. Ketika kemampuan analisa kita menyapa, kita pasti dapat dengan mudah menemukannya.

“Pratice makes perfect.”

Bisakah kita mencontoh semangat literasi dari para kreator yang membikin karya-karya dari Jepang berkembang biak seantero jagat? Akankah kita makin semangat?

Setelah melihat semangat literasi dari kreator-kreator Jepang, apakah kalian masih malas baca literatur? Masih abai dengan para penulis-penulis lokal dan mancanegara beserta karya-karya mereka? Atau gambar-gambar dari tubuh para perempuan molek serta dada bidang para laki-laki macho di sosial media masih menjadi satu-satunya nilai dalam rumus estetika kalian? Apa meme-meme jomblo barangkali? Hmm, mungkin kegiatan viral-viral-an yang menjadikan kalian bertindak seperti robot-robot Despacito versi 5.98 dan Baby Shark versi 1.10.1965 lebih menggairahkan?

karya-karya dari jepang
Cuplikan dari anime Inou-Battle wa Nichijoi-kei no Naka de yang diadaptasi dari manga karya Nozomi dan Kota.

Bukankah keraguan adalah suatu bentuk penghormatan terhadap kebenaran itu sendiri? Daripada dikibuli, kenapa tidak mencoba menggalinya sendiri dengan semangat literasi yang dapat menjembatani elevasi intelejensia kalian sebagai bekal di kemudian hari?