Tan Malaka adalah guru, pejuang, pahlawan, filsuf, dan konseptor pertama bangsa Indonesia yang namanya kerap kali masih selalu dihitamkan dalam sejarah. Walau beliau sudah berjuang penuh untuk Indonesia, namun nyawa beliau tetap saja dihilangkan oleh gerombolan Soekotjo yang notabene adalah bagian dari Indonesia.

Semakin hari Tan Malaka semakin akrab di telinga rakyat Indonesia terutama kaum muda. Yaah, walaupun namanya belum seterkenal drama korea dan juga bollywood india, ya lumayanlah ya? Buku-buku dan slogan-slogannya pun ramai dipakai beberapa kalangan untuk mengisi “status” di pelbagai akun sosial media mereka.

Mengingat sebagian besar kaum muda memang kebanyakan anti terhadap bahasa formal dan bahasa akademis yang kerap digunakan Tan dalam menulis, jadilah kepopulerannya tetap tragis. Sungguh miris ketika bahasa Inggris lebih ngepop dari bahasa akademis, tapi ya mau bagaimana? Menerima itu sebagai anugerah Ilahi dan kutukan Dewata?

Tan
(dokumentasi penulis)

Daripada sibuk memeperdebatkannya, nampaknya Eko Prasetyo dan Aditya Permana pelan-pelan mentransofrmasikan pemikiran Tan Malaka dalam bentuk komik. Judulnya Waktunya Tan Malaka Pemimpin, terbitan Resist Book.

Komik ini menawarkan gagasan-gagasan sang legenda dalam bentuk yang lebih pop, yang lebih halus, dengan harapan dapat lebih diterima oleh kalangan rakyat Indonesia yang notabene minat bacanya masih jomplang, lebih senang gambar dan visualisasi. Komik bisa lebih memanjakan kaum muda tentunya tanpa perlu kehilangan pemikirannya.

Tan
(dokumentasi penulis)

Dalam komik ini, kalian bisa melihat buah pikiran sang legenda hina kelana yang satu ini, ya hina kelana! Karena hidup beliau jauh dari kata mapan, bertualang menjelajahi dunia, kadang sebagai pelajar, orang buangan, dan buronan negara kapitalis. Segenap jiwa dan raga beliau selalu dicurahkan demi kemerdekaan rakyat Indonesia. Mumpung deket dengan Agustusan, ya tak ada salahnya membahas Tan, ia kan?

Komik ini diawali dengan biografi singkat dari Tan yang lalu dilanjutkan dengan ide-ide beliau tentang pendidikan. Tertegun karena melihat nasib dari anak-anak dibawah umur yang bekerja di perkebunan Deli kala itu, Tan mulai terbakar dan berusaha untuk mendidik mereka, para tenaga kerja dibawah umur. Sudah beberapa abad berlangsung hal itu masih terjadi hingga kini ya coy? Kalian liat di perempatan jalan, atau di sudut-sudut pertokoan, masih banyak anak dibawah umur berkeliaran? Dijadikan mesin pencari remah-remah laba?

Tan menaruh keyakinan bahwa pendidikan bukan untuk melahirkan para cerdik cendikia saja atau pelayan kekuasaan; melainkan pendidikan yang memberi modal pada anak untuk melakukan perubahan sosial. Tentu agak sepele jika saat ini tujuan pendidikan hanya melahirkan ambisi anak jadi wirausahawan atau anak yang memenangkan pertarungan ujian. Anak-anak dalam dunia pendidikan adalah ilmuan sekaligus organisator tanggung bagi rakyat yang berlumur kemisiknan dan derita.

Tan
(dokumentasi penulis)

Dalam komik ini kalian akan menemukan banyak sekali imbuhan imajinatif tentang Tan; beliau akan bertemu dengan tokoh-tokoh revolusioner lainnya, beliau yang tiba-tiba ada di zaman indonesia pasca modern dan mengamati kekalutan bangsa, hingga suasana imajinatif beliau yang mengomentari keadaan dunia dari dalam kubur dan juga akhirat.

Tan
(dokumentasi penulis)

Komik ini menarik karena menyeret gagasan-gagasan Tan ke situasi yang terkini dari zaman. Visualisasi yang menghadirkan deformasi Tan dalam bentuk karikatur dan mempertemukannya dengan para tokoh-tokoh zaman sekarang yang kebanyakan lembek dalam memperjuangkan kemerdekaan 100%.

Tan
(dokumentasi penulis)

Ya, merdeka 100%, gagasan beliau yang sampai saat ini masih jauh dari kenyataan. Sungguh indah ya bila ada yang namanya merdeka 100%. Mungkin kita tak harus lagi repot dengan biaya pendidikan yang mahal, tak harus lagi beli kaset gim bajakkan karena harganya bisa sepadan dengan apa yang kita usahakan, tak perlu lagi bergundukkan di satu pulau karena alasan ekonomi maupun koneksi internet, tak perlu lagi bertemu perempuan atau gigolo bernasib malang yang ngetik need money di beetalk, tak perlu lagi pamer belahan tubuh di instagam, atau live streaming mesum nan berkata kasar demi naikin viewers dan dapet gifts, tak perlu lagi nyicil mobil dan motor dengan cara jadi supir taksi karena monopoli ekonomi.

Dan tak perlu lagi baca Virtual Verbal.

MERDEKA 100%?